Wednesday, May 16, 2012

Timur Tengah: Kunci Kemenangan Jerman di Perang Dunia 2

Kita semua sudah tahu sejarah perang dunia 2. Poros Berlin-Roma-Tokyo berperang melawan persekutuan Inggris-Perancis-Uni Soviet-Amerika Serikat. Pihak poros berhasil ditundukkan walaupun mereka berhasil merebut Paris, mendekati Moskow, menghancurkan armada Amerika di Pearl Harbor, dst. 

Apakah pihak poros sudah pasti kalah dalam perang ini? Apakah kemenangan pihak sekutu sudah terjamin? Di permukaan, kelihatannya begitu. Inggris dg koloni²nya, Uni Soviet dg sumber daya manusia dan mineralnya, serta Amerika Serikat dengan industri yg terlindung oleh 2 samudera tampaknya tidak akan bisa dikalahkan oleh pihak poros. Atau minimal ... pihak poros butuh mukjizat untuk mengalahkan pihak sekutu. Betulkah sesederhana itu? Tulisan ini akan membahas peluang pihak Jerman dan italia.

Rommel dan Teater Afrika Utara
Banyak orang merasa kesalahan utama Hitler adalah menyerang Uni Soviet. Artinya, banyak orang berpikir "inaction" (TIDAK menyerang Rusia) akan membuat Hitler memenangkan perang dunia 2. 

Saya akan lebih spesifik tentang aksi apa yang seharusnya diambil Hitler: menyerang daerah Timur Tengah. Saat operasi menyerang Uni Soviet, pasukan Jerman dan Italia dibawah jendral Rommel sedang bertarung melawan pasukan Inggris di Afrika Utara. Seandainya medan perang ini mendapat prioritas utama, dan serangan ke Uni Soviet ditunda, Hitler bisa memperkuat Rommel.

Banyak sejarawan berpendapat, kalau saja Rommel mendapatkan 1 divisi tambahan, dia akan merebut terusan Suez. Kalau saja sumber daya Jerman tidak dihabiskan untuk menyerang Russia, Jerman dibantu AL Italia, bisa merebut Malta, memastikan amannya pasokan logistik untuk pasukan Rommel. Jendral Rommel yang memiliki logistik cukup dan tentara lebih banyak takkan kesulitan merebut El Alamein, lalu Suez. 

Jatuhnya Suez akan menjadi pukulan amat telak untuk Inggris. Pentingnya Suez bukan cuma disadari oleh Rommel. Laksamana Erich Raeder dari AL Jerman bahkan berpendapat Terusan Suez itu lebih penting daripada London! Bukan cuma pukulan psikologis, jatuhnya Suez juga akan membuat jalur lalu lintas antara Inggris dengan koloni Asia dan Afrikanya menjadi jauh lebih jauh. 


Teater Timur Tengah
Tapi kenapa berhenti di Suez? Perhatikan peta di kanan. Setelah merebut Suez, pasukan Jerman bisa meneruskan serangan mereka ke Utara, merebut tanah suci Palestina, lalu setelah itu ke Timur, merebut Siria, dan Iraq. Mereka juga bisa menghubungkan diri dengan Iran, yang condong pro Jerman sehingga di dunia nyata harus diduduki oleh tentara Uni Soviet dan Inggris. 

Jatuhnya Siria dan Iraq berarti Hitler mendapatkan ladang minyak besar, di saat cadangan minyak mereka masih pas²an. Setelah memastikan cadangan minyaknya cukup, pihak poros bisa membangun angkatan bersenjata mereka dengan jauh lebih mudah. Operasi ini juga akan membuka jalan untuk menyerang Uni Soviet melalui Kaukasus dan Asia tengah. Ingat, Turki yang sudah terisolasi takkan bisa menolak Angkatan Bersenjata Jerman yg hendak melalui daerahnya untuk menyerang Uni Soviet. Di saat yang sama, via Iran, pihak poros juga mengancam koloni terpenting Inggris: India. Kalau Hitler waktu itu mengerti betapa pentingnya daerah Timur Tengah ini dan memusatkan kekuatannya ke teater ini sejak awal, bukannya mengirim semuanya ke Uni Soviet, niscaya pihak sekutu akan sangat sulit memenangkan perang dunia 2.

Sejarah berkata lain. Hitler tidak memilih jalur ini karena dia sudah terobsesi untuk merebut Uni Soviet, dia tak bisa melihat bahwa ada jalan "memutar" yang lebih mudah, yang sangat mungkin lebih efektif untuk mendapatkan apa yang dia mau. Seluruh dunia beruntung, kalau saja Hitler lebih rasional, dia bisa memenangkan Perang Dunia 2.



Bacaan:
Bevin Alexander, How Hitler Could Have Won World War II (2001)
John Keegan, edited by Robert Cowley, "How Hitler Could Have Won the War," What If? (Pan Books 2001)

Peta Eropa diambil dari: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Second_world_war_europe_1941-1942_map_en.svg

1 comment: