Thursday, August 16, 2012

Cara Berdiskusi yang Sehat

Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan psikologis untuk berinteraksi 1 sama lain. Ada banyak interaksi yang bisa terjadi. "Diskusi" adalah salah satunya. 

Sebuah diskusi adalah saat dimana setidaknya dua individu secara aktif melakukan tukar menukar informasi. Di sisi lain, sebuah debat pada intinya adalah sebuah diskusi dimana kedua pihak tidak setuju tentang sesuatu, dan mendiskusikan hal tsb. Intinya: beda diskusi dan debat itu amat tipis. Karena itu, cara berdiskusi yang sehat SAMA PERSIS dengan cara debat yang sehat. Coba lihat diskusi/debat berikut ini, tentang apakah Indonesia harus menjadi negara Islam/Khilafah:

"A": Khilafah itu bagus kok!
"B": Khilafah itu jelek!
"A": BAGUS, BAGUS, BAGUS!!
"B": JELEK, JELEK, JELEK!!

Saya yakin semua orang setuju bahwa contoh di atas adalah contoh sebuah diskusi/debat yang buruk. Apa yang salah? Kesalahan yang paling utama yang dilakukan oleh kedua orang di atas adalah, mereka cuma menyampaikan opini mereka, bukannya menyampaikan ARGUMEN. Yup, argumen. Sebuah diskusi atau debat adalah PERBANDINGAN ARGUMEN. Kedua orang di atas cuma memberikan OPINI mereka. Tidak ada argumen, tidak ada diskusi, apalagi diskusi yang baik. 

OK, kalau begitu bagaimana cara yang berdiskusi yang sehat? Sederhana, bicarakan argumennya. Jangan ngelantur, jangan lari ke-mana², jangan mengalihkan topik, analisa argumen pihak lain dan sampaikan tanggapan anda.

Lebih rincinya, ibarat sebuah tembok, ada 2 hal yang menyusun argumen: data/fakta dan logika, ibarat batu bata dan semen. Jadi, semua diskusi tentang sebuah argumen harus melibatkan setidaknya salah 1 dari 2 hal itu: data dan logika. Kalau dibawa dalam kontext debat, cuma ada 2 serangan yang sah:
1) Menunjuk kekurangan atau kesalahan data/fakta lawan.
2) Menunjuk kesalahan logika lawan.

Mari kita kembali ke contoh di atas. Serangan tipe pertama itu seperti ini:
"B": Khilafah itu jelek! Semua diktator dan tiran itu menggunakan Khilafah, lihat mereka sudah membunuh berapa milyar manusia?
"A": Maaf yah, tapi itu salah besar. Hitler tidak pernah mendirikan atau memimpin Khilafah. Apalagi Stalin, Pol Pot, dan Mao yang komunis!

Lihatkan? "A" menyerang data yang digunakan "B" dalam argumen anti Khilafahnya. Tak sulitkan? Lanjut, kita ke contoh kedua:
"A": Khilafah itu bagus sebab Hitler tak mendukung Khilafah! Stalin dan Mao juga!
"B": Mereka bertiga tak percaya kuntilanak itu ada. Jadi artinya kita harus percaya kuntilanak itu ada?

Jelaskan? Kita jadi melihat sebuah diskusi, sebuah debatkan, bukannya adu teriak antara 2 anak kecil seperti contoh pertamakan?

Namun, kenyataannya berbeda jauh. Ada banyak tehnik yang sering digunakan dalam debat, diskusi, black campaign, dll yang jauh dari sahih. 

Tehnik pertama tentu saja memalsukan fakta atau menyebar kabar bohong. Tak perlu penjelasan apapun tentang ini, sudah cukup jelas, balik lagi ke tehnik debat #1, tinggal tunjuk kesalahan data/fakta tsb.

Tehnik kedua tentu saja menggunakan logical fallacy/kesesatan logika! Ini adalah tehnik favoritnya BANYAK orang. Beberapa fallacy yang paling umum digunakan:

1) Argumentum ad hitlerum:
Ini adalah yang dilakukan di contoh kedua, "A" mencoba menjatuhkan argumen "B" dengan menyamakannya dengan Hitler. Hitler bisa diganti menjadi "Kafir" atau "Zionis" atau "Muslim" atau cap² lainnya. Nope. Menyatakan sesuatu sbg pendapatnya sebuah kelompok/individu negatif tidak otomatis menjatuhkan argumen tsb.

2) Argumentum ad baculum:
Ini adalah favoritnya para preman! "Kalau kamu tak setuju dengan pendapatku, aku tak menjamin keamananmu!" alias main ancam! Hei, siapa yang butuh argumentasi rasional kalau bisa mengancam?  

3) Circular logic:
Berusaha membuktikan 1 argumen dengan dasar argumen itu sendiri. Contoh: "Saya pasti benar karena saya sudah bilang saya pasti benar!" Ngawurkan? Tapi inilah yang selalu dilakukan orang yang membuat argumen teologis/mencatut nama Tuhan ketika ditanya kenapa kitab suci pasti benar: "Kitab suci pasti benar karena ditulis oleh Tuhan yang tak mungkin salah," sementara mereka juga selalu bilang "Cuma Tuhan lah yang bisa menulis kitab suci sebab kitab suci selalu benar!" OK ... muter dah ...

4) Correlation doesn't imply causation:
Hubungan tidak otomatis membuktikan sebab akibat. Anggota agama pastafarianisme sebagai bagian dari satire mereka misalnya, berargumen bahwa suhu bumi terus meningkat di saat jumlah bajak laut di seluruh dunia terus menurun, membuktikan bajak lautlah yang mencegah global warming! Sebuah hubungan bisa terjadi karena 2 hal tsb disebabkan oleh hal yang sama, atau cuma kebetulan semata. Harus ada bukti² lain untuk membuktikan hubungan sebab akibat. 

Dan masih banyak lagi. Wikipedia memiliki daftar yang lebih komprehensif

Itu adalah cara² berdebat yang tidak sahih. Itu adalah cara berdiskusi yang TIDAK membahas argumen ybs. Kalau anda memang perduli dengan integritas anda, dengan kenyamanan internet sbg tempat bertukar pikiran, dengan integritas argumen anda, anda wajib menghindari semua fallacies tsb.

Namun, tentu saja ada saatnya anda berdiskusi dengan orang yang bolak-balik menolak berdiskusi dengan sehat. Anda tahu dong? Biasanya sih orang yang bakalan ngotot, lalu begitu anda mulai menyampaikan argumen anda dia malah me-maki²? Kadang² memakinya dengan kebon binatang dan aktivitas atas ranjang. Kadang² dengan ancaman neraka, siksa kubur, dan hukuman di akhir jaman. Intinya: diskusi dengan orang² yang menolak menggunakan rasio.

Saran saya: tetaplah berdiskusi dengan mereka, asalkan diskusi/debat tsb terjadi di depan umum. Mereka mungkin tidak bisa mengerti sepatah katapun dari anda, tapi orang² yang mengikuti diskusi/debat tsb tidak semuanya menolak rasio kan?

Kalau diskusi tsb terjadi tidak di depan umum ... sampaikan argumen anda sekali. Jangan terlalu ngotot. Hidup itu cuma sekali, sayang amat kalau dihabiskan cuma untuk berdebat dengan seseorang yang menolak menggunakan rasio.



No comments:

Post a Comment