Sunday, August 19, 2012

I Hate Hate HATE these 10 Characters!

First, let me credit Roger Ebert & Ted Woolsey's translation of Kefka Palazzo, who stated that they "Hate hate hate something", inspiring me the title of this article. Now, let's start the article ...


Many antagonists/villains are created to be hated. That's cool for me. Many good villains are good because we hate them so much. We can say, we love to hate them! 

Unfortunately, there are many characters that were created to be loved, but irritated, annoyed, and asked to be skinned alive constantly. Here are some of those characters.

Note 1:
Don't expect Jarjar Binks in this list. He is awful, but it is not him that irritated me most when I watch The Phantom Menace. The plot-holes, Qui-Gonn Jinn, and many other things did a better job at irritated me. In essence THE WHOLE MOVIE irritated me far more greatly. Jarjar is relatively tame compare to the whole orchestra of monstrosity that use him as one of its instrument. See Redlettermedia Plinkett Review to see what I mean by that.

These guys are far worse than Jarjar. Some of their movies/tv series/novels/video games are actually good, but they still annoyed the hell outta me. Or in other cases, they are the primary reason why their movies/tv series/novels/video games sucks. Sometimes, they are so irritating that even seeing them on a billboard or a magazine is enough to send me into rage.

Note 2:
Fair warning: this is not for anyone who dislike black humor. Leave now before you are offended! You have been warned!

Saturday, August 18, 2012

Mereka Panik ... dan Putus Asa!

Pilkada Jakarta putaran kedua sudah dekat. 

Jakarta bukannya tenang, malah tambah kacau.

Dan ada 1 yang paling kacau, video youtube yang mengancam semua warga Jakarta keturunan Cina untuk menghanguskan suaranya.

Komentar saya: panik nih yeee!!
Putus asa kampanye SARA-nya gak mempan?
Putus asa calonnya ketinggalan terus di semua survei?
Putus asa pasangan Jokowi-Ahok gak bisa dikejar?
Segitu putus asanya sampai² kini mengancam dengan terang²an?

Pesan saya buat yang buat video ini:
TERIMA KASIH sudah jujur, menunjukkan anda cuma perduli pada sentimen rasial, bukannya memperhatikan kompetensi dan kejujuran!
TERIMA KASIH sudah meyakinkan semua orang yang cinta Indonesia, cinta Jakarta, dan cinta persatuan-kesatuan bahwa para rasis seperti kalian terang² mendukung salah 1 calon gubernur!
TERIMA KASIH sudah meyakinkan semua warga keturunan Cina untuk berpartisipasi dalam pilkada kali ini!

Sekali lagi, TERIMA KASIH BANYAK! 

Friday, August 17, 2012

Bullshit Building 12: Suramadu Bridge

The Madura island in Indonesia is a relatively big island. It is located right across Java, the most crowded Island on earth, the most developed island in Indonesia archipelago. Despite its proximity, that island is relatively under-developed compare to Java. So how the government try to stimulate the development of that island? By building a very large and long bridge to connect it with the city of Surabaya in East Java, the 2nd largest city in Indonesia. That sounds sensible ... until you take a closer look.

From wikipedia
The Result
The construction of the 5,5 km bridge between August 2003-June 2006 had problems, but nothing really special. Just typical problems encountered by any construction project in Indonesia. After spending 500 million Dollars, the longest bridge in Southeast Asia was opened by the president himself with a lavish ceremony. So far so good.

Unfortunately, from day one of the opening, people realize this bridge is actually not a good idea.

The first problem occurred just in the first weeks of the opening. Suddenly the big screws in the bridge were stolen. Yup, you read it correctly, people really stole those enormous screws that holds the bridge together. The government decided to weld all the screws to stop this problem.

Second problem is, large trucks and trollies can't use that bridge. There are 2 reasons for that. First, there is this concern that the bridge can't withstand those trucks. Hey, we are speaking about Indonesia here, where the bridges could collapse after some years. Second, the vendors in Surabaya's ferry harbor weren't happy seeing all of the trucks suddenly didn't come to them again. So, the government decided to order all large trucks to use the ferry, not the bridge.

The third problem occured in the city of Surabaya. Suddenly car theft and motorcycle theft numbers soared since the finishing of the bridge. Huh? How come? This is because all of those thief ALWAYS bring their loot to Madura. Now they've got a bridge, their operation become a hell lot easier.

And lastly, until 2012, the development of Madura is not stimulated by the bridge. No one wants to build anything, or invest their money, or start any kind of business there. 

Oh yeah, one thing developed though. After the government renovate the beach around the bridge, many people use it for illegal prostitution. That's how you want to stimulate the economy?

What is the cause of all this problem? Well ... we could trace it back to the beginning, to the very root. But bare with me, this is not a politically correct explanation.


Why Madura is underdeveloped?
Let's get back to the central assumption behind the building of this bridge: "Madura was underdeveloped because it is separated by waters with Java."

Nope, wrong assumption.

The real reason is, everyone never feel secure to invest their money in Madura.

You see, every ethnic in Indonesia has some stereotype. The Madurese has very negative stereotype. Their stereotype is so negative that everybody else believe that you can't build ANYTHING in Madura if you are not born & grow up there, if you can't speak Madurese language. Why? Because, according to the stereotype, living among the Madurese need a certain skill. We are talking about the stereotype that Madurese are easily offended people who easily swing their blades and cut other's stomach. They live like that even after they migrated to other islands. 

Just ask ANY Indonesian businessman, they will definitely said the same thing. Just ask ANY Indonesian whether they like to do any kind of business with the Madurese. 

Are these stereotypes fair? Maybe not. But it is still a fact that these stereotypes exist among other Indonesians. Even the government of Indonesia was hesitant to build anything in Madura. So, they try to "stimulate" private investors to invest there by build the bridge. Not a chance. Investors are not stupid, they check EVERYTHING before they put their money. Like it or not, they will discover these stereotypes.

So, if anyone really care about developing Madura, they have to prove to every Indonesian that these stereotypes are wrong. Dodging this problem due to political correctness, and building a bullshit bridge won't solve it.


But is this bridge 100% total-pure bullshit? Nah, it is only 99%. Nowadays people said you haven't been to Surabaya if you never been in this bridge. That is enough to reduce the bullshitness of this bridge by 1%.



Previous Bullshit Building: Abraj Al Bait Clock Tower
Next Bullshit Building: The Vatican 


Thursday, August 16, 2012

Cara Berdiskusi yang Sehat

Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan psikologis untuk berinteraksi 1 sama lain. Ada banyak interaksi yang bisa terjadi. "Diskusi" adalah salah satunya. 

Sebuah diskusi adalah saat dimana setidaknya dua individu secara aktif melakukan tukar menukar informasi. Di sisi lain, sebuah debat pada intinya adalah sebuah diskusi dimana kedua pihak tidak setuju tentang sesuatu, dan mendiskusikan hal tsb. Intinya: beda diskusi dan debat itu amat tipis. Karena itu, cara berdiskusi yang sehat SAMA PERSIS dengan cara debat yang sehat. Coba lihat diskusi/debat berikut ini, tentang apakah Indonesia harus menjadi negara Islam/Khilafah:

"A": Khilafah itu bagus kok!
"B": Khilafah itu jelek!
"A": BAGUS, BAGUS, BAGUS!!
"B": JELEK, JELEK, JELEK!!

Saya yakin semua orang setuju bahwa contoh di atas adalah contoh sebuah diskusi/debat yang buruk. Apa yang salah? Kesalahan yang paling utama yang dilakukan oleh kedua orang di atas adalah, mereka cuma menyampaikan opini mereka, bukannya menyampaikan ARGUMEN. Yup, argumen. Sebuah diskusi atau debat adalah PERBANDINGAN ARGUMEN. Kedua orang di atas cuma memberikan OPINI mereka. Tidak ada argumen, tidak ada diskusi, apalagi diskusi yang baik. 

OK, kalau begitu bagaimana cara yang berdiskusi yang sehat? Sederhana, bicarakan argumennya. Jangan ngelantur, jangan lari ke-mana², jangan mengalihkan topik, analisa argumen pihak lain dan sampaikan tanggapan anda.

Lebih rincinya, ibarat sebuah tembok, ada 2 hal yang menyusun argumen: data/fakta dan logika, ibarat batu bata dan semen. Jadi, semua diskusi tentang sebuah argumen harus melibatkan setidaknya salah 1 dari 2 hal itu: data dan logika. Kalau dibawa dalam kontext debat, cuma ada 2 serangan yang sah:
1) Menunjuk kekurangan atau kesalahan data/fakta lawan.
2) Menunjuk kesalahan logika lawan.

Mari kita kembali ke contoh di atas. Serangan tipe pertama itu seperti ini:
"B": Khilafah itu jelek! Semua diktator dan tiran itu menggunakan Khilafah, lihat mereka sudah membunuh berapa milyar manusia?
"A": Maaf yah, tapi itu salah besar. Hitler tidak pernah mendirikan atau memimpin Khilafah. Apalagi Stalin, Pol Pot, dan Mao yang komunis!

Lihatkan? "A" menyerang data yang digunakan "B" dalam argumen anti Khilafahnya. Tak sulitkan? Lanjut, kita ke contoh kedua:
"A": Khilafah itu bagus sebab Hitler tak mendukung Khilafah! Stalin dan Mao juga!
"B": Mereka bertiga tak percaya kuntilanak itu ada. Jadi artinya kita harus percaya kuntilanak itu ada?

Jelaskan? Kita jadi melihat sebuah diskusi, sebuah debatkan, bukannya adu teriak antara 2 anak kecil seperti contoh pertamakan?

Namun, kenyataannya berbeda jauh. Ada banyak tehnik yang sering digunakan dalam debat, diskusi, black campaign, dll yang jauh dari sahih. 

Tehnik pertama tentu saja memalsukan fakta atau menyebar kabar bohong. Tak perlu penjelasan apapun tentang ini, sudah cukup jelas, balik lagi ke tehnik debat #1, tinggal tunjuk kesalahan data/fakta tsb.

Tehnik kedua tentu saja menggunakan logical fallacy/kesesatan logika! Ini adalah tehnik favoritnya BANYAK orang. Beberapa fallacy yang paling umum digunakan:

1) Argumentum ad hitlerum:
Ini adalah yang dilakukan di contoh kedua, "A" mencoba menjatuhkan argumen "B" dengan menyamakannya dengan Hitler. Hitler bisa diganti menjadi "Kafir" atau "Zionis" atau "Muslim" atau cap² lainnya. Nope. Menyatakan sesuatu sbg pendapatnya sebuah kelompok/individu negatif tidak otomatis menjatuhkan argumen tsb.

2) Argumentum ad baculum:
Ini adalah favoritnya para preman! "Kalau kamu tak setuju dengan pendapatku, aku tak menjamin keamananmu!" alias main ancam! Hei, siapa yang butuh argumentasi rasional kalau bisa mengancam?  

3) Circular logic:
Berusaha membuktikan 1 argumen dengan dasar argumen itu sendiri. Contoh: "Saya pasti benar karena saya sudah bilang saya pasti benar!" Ngawurkan? Tapi inilah yang selalu dilakukan orang yang membuat argumen teologis/mencatut nama Tuhan ketika ditanya kenapa kitab suci pasti benar: "Kitab suci pasti benar karena ditulis oleh Tuhan yang tak mungkin salah," sementara mereka juga selalu bilang "Cuma Tuhan lah yang bisa menulis kitab suci sebab kitab suci selalu benar!" OK ... muter dah ...

4) Correlation doesn't imply causation:
Hubungan tidak otomatis membuktikan sebab akibat. Anggota agama pastafarianisme sebagai bagian dari satire mereka misalnya, berargumen bahwa suhu bumi terus meningkat di saat jumlah bajak laut di seluruh dunia terus menurun, membuktikan bajak lautlah yang mencegah global warming! Sebuah hubungan bisa terjadi karena 2 hal tsb disebabkan oleh hal yang sama, atau cuma kebetulan semata. Harus ada bukti² lain untuk membuktikan hubungan sebab akibat. 

Dan masih banyak lagi. Wikipedia memiliki daftar yang lebih komprehensif

Itu adalah cara² berdebat yang tidak sahih. Itu adalah cara berdiskusi yang TIDAK membahas argumen ybs. Kalau anda memang perduli dengan integritas anda, dengan kenyamanan internet sbg tempat bertukar pikiran, dengan integritas argumen anda, anda wajib menghindari semua fallacies tsb.

Namun, tentu saja ada saatnya anda berdiskusi dengan orang yang bolak-balik menolak berdiskusi dengan sehat. Anda tahu dong? Biasanya sih orang yang bakalan ngotot, lalu begitu anda mulai menyampaikan argumen anda dia malah me-maki²? Kadang² memakinya dengan kebon binatang dan aktivitas atas ranjang. Kadang² dengan ancaman neraka, siksa kubur, dan hukuman di akhir jaman. Intinya: diskusi dengan orang² yang menolak menggunakan rasio.

Saran saya: tetaplah berdiskusi dengan mereka, asalkan diskusi/debat tsb terjadi di depan umum. Mereka mungkin tidak bisa mengerti sepatah katapun dari anda, tapi orang² yang mengikuti diskusi/debat tsb tidak semuanya menolak rasio kan?

Kalau diskusi tsb terjadi tidak di depan umum ... sampaikan argumen anda sekali. Jangan terlalu ngotot. Hidup itu cuma sekali, sayang amat kalau dihabiskan cuma untuk berdebat dengan seseorang yang menolak menggunakan rasio.